Tampilkan postingan dengan label Jagat Raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jagat Raya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2015

Misteri Huruf 'Y' Raksasa di Planet Venus Terpecahkan



Sejak pertama kali memotret planet Venus dengan kamera infra merah, ilmuwan dibuat penasaran dengan sebuah pola aneh di permukaan Venus yang berbentuk huruf 'Y'. Setelah bertahun-tahun, misteri itu akhirnya mulai tersibak.

Institut Astrofisika di Andalusia (IAA) di Spanyol baru saja mengumumkan teori terbaru yang mampu menjawab misteri huruf 'Y' di permukaan Venus. Menurut ilmuwan IAA, huruf 'Y' itu disebabkan oleh angin super dengan kecepatan di luar nalar manusia.

Bagaimana tidak, IAA mengatakan bila angin tersebut berkecepatan 360 kilometer per jam! Kecepatan itu melebihi top speed dari mobil Formula 1 yang 'hanya' 320 kilometer per jam.

Dengan kecepatan super, angin itu bisa mengitari Venus setidaknya empat sampai lima hari sekali (waktu bumi). Ini belasan kali lebih cepat dari kecepatan putar planet Venus. Ya, untuk satu kali putaran (satu hari di planet Venus) dibutuhkan 243 hari Bumi.

Tidak salah bila angin tersebut mampu mendorong sebagian besar awan di atmosfer Venus dan menyebabkan gelombang besar di seluruh permukaanya. Mengingat kecepatan di bagian khatulistiwa lebih lambat dari pada di sekitar kutub, angin tersebut menyebabkan pola gelombang awan berbentuk huruf 'Y'.

"Gelombang besar di atmosfer Venus disebabkan oleh angin dahsyat. Hebatnya, angin itu bertiup secara konstan sehingga huruf 'Y' itu terus ada," ujar Dr. Javier Peralta dari IAA, Daily Mail(03/03).

Meskipun terlihat mirip dengan Bumi, Venus memang jauh lebih mematikan. Selain angin berkecepatan ratusan kilometer per jam yang bisa melumat tubuh manusia, suhu di permukaan Venus sangat panas dan mampu melelehkan logam.

SUMBER : MERDEKA.COM

Jumat, 13 Maret 2015

Ditemukan 10 Planet Baru di Luar Tata Surya


Sebuah kelompok astronom internasional telah menemukan 10 planet baru yang pusat orbitnya bukan matahari. Tim itu menggunakan kamera robotik yang mendapatkan informasi cukup banyak tentang dunia lain tersebut, bahkan ada yang cukup eksotis. Sistem ini diharap akan merevolusi pandangan ilmu pengetahuan tentang pembentukan planet.

Dua diantara kelompok astronom itu berasal dari A.S, Rachel Street dan Tim Lister. Street adalah mahasiswa pasca-sarjana di University of California, Santa Barbara dan Las Cumbres Observatory Global Telescope Network (LCOGTN) di Santa Barbara. Lister adalah pimpinan proyek di LCOGTN.

Pemimpin tim, Don Pollaco dari Queen’s University, Belfast, Irlandia Utara, akan mengumumkan penemuannya pada pidato di pertemuan astronom nasional Royal Astronomical Society’s di Inggris pada hari rabu 2 April. Kolaborasi internasional ini disebut “SuperWASP,” untuk Pencarian untuk Planet (Wide Area Search for Planets).

Teknik penemuan planet ini member informasi lebih tentang pembentukan dan evolusi planet daripada teknik gravitasi. Astronom mencari “transits,” momen dimana planet lewat didepan bintangnya, sama seperti gerhana di bumi. Pada 6 bulan terakhir tim SuperWASP menggunakan 2 kamera di kepulauan Canary dan Afrika Selatan untuk menemukan 10 planet baru diluar tata surya.

Dengan teknik gravitasi, ilmuwan telah menemukan 270 planet diluar tata surya sejak awal 1990. Mereka mengukur gaya tarik gravitasi pada bintang yang berasal dari planet yang mengelilinginya. Ketika planet bergerak maka gaya tarik itu berubah. Tetapi hal ini baru dapat menemukan planet baru jika suatu bintang diamati dalam beberapa minggu atau bulan, sehingga kecepatan penemuannya lambat.

Teknik SuperWASP meliputi 2 set kamera yang mengamati kejadian transit dimana planet tepat berada didepan bintangnya sehingga memblok cahaya bintang yang mengakibatkan bintang tersebut terlihat dari bumi lebih pucat. Kamera Super WASP bekerja sebagai robot, mengamati area luas dari langit pada sekali pandang. Setiap malam astronom menerima data tentang jutaan bintang. Mereka mencari data transit dan menemukan planet. Teknik transit juga memungkinkan ilmuwan untuk menyimpulkan ukuran dan massa planet.

Kolaborator dari seluruh dunia mengikuti setiap kemungkinan planet yang ditemukan SuperWASP dengan observasi lebih detil untuk mengkonfirmasi atau menolak penemuan tersebut.

Astronom yang bekerja di Las Cumbres Observatory Global Telescope Network (LCOGTN) bekerjasama dengan UC Santa Barbara memakai teleskop robotik di Arizona, Hawaii, dan Australia. Teleskop tersebut menyediakan data berkualitas tinggi untuk dipilih untuk observasi lebih lanjut. Data ini bersama data dari Nordic Optical Telescope di La Palma, Spanyol; the Swiss Euler Telescope di Cili; dan the Observatoire de Haute Provence di Perancis Selatan; memberi konfirmasi akhir adanya penemuan baru.

Total 46 planet telah ditemukan terhadap bintang transitnya. Sejak dioperasikan tahun 2004, kamera SuperWASP telah menemukan 15 bintang dan merupakan survey transit tersukses di dunia. Planet yang ditemukan SuperWASP bermassa diantara separuh sampai delapan kali massa planet terbesar di tata surya yaitu Jupiter.

Angka dari dunia baru ini cukup menakjubkan. Sebagai contoh satu tahun versi WASP-12b, adalah setara dengan sehari lebih sedikit waktu bumi. Planet ini sangat dekat dengan bintangnya sehingga suhu siang harinya dapat mencapai 2300 derajat Celsius.

Lister dan Street dari LCOGTN/UCSB sangat gembira dengan hasil ini. Street menggambarkan penemuan ini sebagai langkah maju yang sangat besar bagi bidangnya. Lister mengatakan, “Banyaknya penemuan baru dari SuperWASP akan merevolusi pengertian kita tentang pembentukan planet. Jaringan teleskop fleksibel global milik LCOGTN memainkan peranan terpenting dari usaha dunia untuk mempelajari planet baru.”

Jumat, 16 Januari 2015

3,5 Miliar Tahun Lalu Planet Mars Memiliki Samudra Luas Seperti Bumi


Dahulu kala planet Mars adalah sebuah planet yang memiliki samudra luas layaknya bumi. Samudra tersebut diperkirakan meliputi 36 % dari keseluruhan luas planet Mars dengan jumlah air sekitar 30 juta kubik mil air. Hal itu terjadi 3.5 miliar tahun yang lalu.

Bukan hanya itu, dulu planet Mars juga terjadi hujan, sehingga sangat dimungkinkan di sana pernah ada kehidupan.Penelitian itu didasarkan atas sebuah studi yang dilakukan terhadap delta yang ada pada sungai-sungai kering dan ribuan lembah sungai yang terdapat di permukaan Mars.Para ilmuwan dari University of Colorado di Boulder tidak mengetahui dengan pasti mengapa air tersebut lenyap, tapi banyak jejak tetap berada di laut es yang terkubur di bawah permukaan.

Dr Brian Hynek, yang mengambil bagian dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience, berkata "Mars mungkin pernah memiliki siklus air seperti Bumi dengan hujan yang jatuh ke sungai dan laut, menguap ke atmosfir dan membentuk awan."Laut Mars yang belum diberi nama berisi sekitar sepersepuluh dari semua air yang ditemukan di lautan bumi, katanya. Mars sedikit lebih dari setengah ukuran Bumi.

Menggunakan peta yang terperinci dari NASA dan pesawat ruang angkasa European Space Agency, para peneliti melihat sisa-sisa 52 delta sungai, masing-masing terdiri dari lembah-lembah sungai banyak.

Lebih dari setengah berada di ketinggian yang sama dan muncul untuk menandai batas-batas samudra besar. Jumlah air di laut akan membentuk lapisan setara dengan 1.800 kaki menyebar di seluruh planet.

Dr Gaetano Di Achille berkata: "Di Bumi, delta dan danau yang sangat baik untuk mengetahui tanda-tanda kehidupan masa lalu. Jika kehidupan pernah muncul di Mars, delta dapat menjadi kunci untuk membuka masa lalu biologis Mars '. "

Sebuah studi kedua juga mendeteksi sekitar 40.000 lembah-lembah sungai empat kali lebih banyak dari yang terlihat sebelumnya. Lembah adalah sumber sedimen yang dibawa ke hilir dan dibuang ke delta-delta.

Gagasan besar tentang samudra kuno di Mars telah diperdebatkan selama dua dekade. Namun, studi baru memberikan bukti kuat bahwa laut memang pernah ada dan menimbulkan pertanyaan menggoda tentang sejarah planet itu.

"Salah satu pertanyaan utama kami ingin menjawab adalah ke mana semua air di Mars pergi," kata Dr Di Achille. Misi untuk Mars yang akan datang yaitu termasuk NASA's Mars Atmosphere and Volatile Evolution project pada 2013, untuk memecahkan misteri tersebut.

Rabu, 28 Mei 2014

Bintang Yang Paling Tua Di Alam Semesta




Tim astronom menggunakan teleskop luar angkasa Hubble milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) menemukan bintang paling tua yang ada di alam semesta. Bintang tersebut diyakini berusia 14,5 miliar tahun.

"Kami telah menemukan bahwa ini merupakan bintang paling tua dengan usia yang telah ditetapkan dengan baik," kata Howard Bond dari Pennsylvania State University di University Park, seperti dikutipSpaceref, Jumat (8/3/2013).

Bintang paling lawas ini menunjukkan bahwa kalkulasi usia alam semesta (universe) lebih tua dari 13,8 miliar. Estimasi sebelumnya dari observasi yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa bintang paling tua berusia 16 miliar tahun.

Tampaknya, ini memang menjadikan dilema tersendiri di kalangan para peneliti. "Mungkin kosmologi adalah salah, fisika bintang adalah salah atau jarak bintang yang salah. Sehingga, kami menetapkan untuk memperbaiki jarak tersebut," jelasnya.

Kendati demikian, penetapan usia bintang paling tua ini dikatakan tumpang tindih dengan usia alam semesta. Peneliti menetapkan usia bintang melalui tingkat perluasan luar angkasa, sebuah analisis latar belakang gelombang mikro dari Big Bang dan pengukuran kerusakan radioaktif.

Tim peneliti menerapkan teori-teori kontemporer tentang kandungan kimia serta struktur internal planet. Bond berpikir bahwa pengukuran oksigen bisa mengurangi estimasi usia bintang.

Sebab, bintang akan terbentuk dalam waktu tertentu saat alam semesta memiliki kelimpahan kandungan oksigen. Dengan merumuskan mengenai jarak bintang, kandungan kimia serta strukturnya, Bond menetapkan bahwa bintang paling tua ini berusia 14,5 miliar tahun.

Informasi yang beredar sebelumnya mengungkapkan, ilmuwan mengungkap galaksi tertua berusia 10,7 miliar tahun. Galaksi tertua dengan kode nama BX442 ini diyakini sebagai galaksi pertama yang pernah terbentuk.

Beginilah Jadinya Jika Seluruh Air di Bumi Dikumpulkan!




Tahukah sobat berapa banyak jumlah air yang ada di planet Bumi ini? Yap 70 persen permukaan Bumi ditutupi oleh air. Meskipun demikian, samudra - samudra yang ditutupi oleh air tersebut ternyata sangatlah dangkal bila dibandingkan dengan radius Bumi. Dan pernahkah sobat membayangkan bagaimana jadinya bila seluruh air yang ada di Bumi dikumpulkan menjadi sebuah bola? Pasti sobat membayangkan bola air yang sangat super besar! Namun kenyataannya, Beginilah jadinya jika seluruh air dibumi dikumpulkan!

Pada gambar diatas terlihat bahwa jika air di seluruh bumi dikumpulkan (menjadi bentuk bola) maka air tersebut tidaklah sebesar Bulan. Jari - jari lingkaran Bola Air ini hanya sekitar 700 kilometer atau diameternya sekitar 1400 kilometer (berpuluh - puluh kali ukuran Bulan). Nah jadi sudah tahukan sobat bagaimana jadinya jika seluruh air di Bumi dikumpulkan? Sekian artikel saya kali ini, semoga bermanfaat!